Memahami TEORI QUEER

Teresa-web

Teresa de Lauretis

ArdhanaryInstitute- Secara historis queer memiliki beragam arti yang mengacu pada sesuatu yang ganjil, aneh, kacau dan bukan hal yang biasa. Bahkan lebih ekstrimnya diartikan sebagai sebuah kegilaan yang ada diluar norma-norma sosial.

Lalu, bagaimana teori queer lahir? Frase teori queer lahir berawal dari pemikiran Teresa de Lauretis pada tahun 1990. Pada saat itu, Teresa de Lauretis memiliih judul presentasi di sebuah konferensi yang ia koordinasikan untuk mengacaukan kepuasan diri akan kajian lesbian dan gay. Sebagai kajian yang interdisipliner, teori queer mempertahankan misi yang “mengacaukan”, seperti yang ditunjukkan oleh de Lauretis dalam presentasinya. Dengan sengaja ia kacaukan definisi lesbian dan gay sehingga keluar dari kotak kaku dalam mendefinisikan gender dan seksualitasnya. de Lauretis menggoncangkan makna, kategori, dan identitas diantara gender dan seksualitas yang terkotak dalam identitas lesbian dan gay.

Judith Butler menjadi penyokong pemikiran de Lauretis dalam mengelaborasi cara-cara dimana kategori tersebut dinormalkan oleh wacana hegemoni kebudayaan yang dominan. Butler bertanya ‘pada tingkatan apa identitas dianggap ideal dan normatif dari pada fitur deskreptif pengalaman?’

Judith-Butler_web

Judith Butler

Dalam pandangan feminis, gender adalah konstruksi sosial, sedangkan “seks” adalah sebuah fenomena biologis yang tidak bisa diubah. Berbeda dengan pandangan de Lauretis dan Butler yang melihat keduanya, baik seks maupun gender sebagai sesuatu yang cair dan bisa diubah. Seks adalah kontruk ideal yang termaterialisasikan secara paksa melalui waktu (Butler, 1993:13). Karenanya Butler melakukan dekonstruksi terhadap “seks” dan mendemonstrasikan batas diskursifnya. tidak hanya berpengaruh pada teori performa dari identitas tetapi juga pada area yang dikenal sebagai teori queer, dalam hal ini ia menggunakan konsep “termaterialisasikannya tubuh” melampaui konsep “terkonstruksinya seksualitas, bahwa tubuh, bukan sekedar plat yang kemudian diatasnya dibentuk gender dan seksualitas.

Teori queer berakar dari materi bahwa identitas tidak bersifat tetap dan stabil. Identitas bersifat historis dan dikonstruksi secara sosial. Dalam konteks teori, dapat digolongkan sebagai sesuatu yang anti identitas. Ia bisa dimaknai sebagai sesuatu yang non normative atau non essensialis. Dalam teori ini terdapat tiga makna intelektual dan politik, meskipun sulit membuat batasan-batasannya. Teori queer juga dikenal sebagai teori antinormatif, antikategori dan antidominan.

Pada intinya teori ini berkaitan dengan soal proses yang difokuskan pada pergerakan yang melintasi ide, ekspresi, hubungan, ruang dan keinginan yang menginovasi perbedaan cara hidup di dunia.

Queer menjadi tempat peperangan serta pertandingan yang terus menerus dan tidak selesai. Contoh yang paling menarik dan berharga bukanlah yang terdapat didalamnya, dimana seseorang memenuhi kelayakan kita dalam membentuk kategori identitas, tetapi ketika orang tersebut tidak melakukannya. Kemungkinan untuk menampilkan identitas tidak ada akhirnya, masing-masing dari kita memilih dari acuan identitas konstruksi khusus gender, jenis kelamin, seksualitas dan identitas yang sangat pantas dengan kita.

David Hallperin menjelaskan queer sebagai ‘apapun yang non normatif jika dikaitkan dengan yang normatif, sah dan dominan. Tidak ada suatu yang khusus yang ditunjukkan olehnya’. Queer menunjukkan posisi kita jika dikaitkan dengan normatif. Menurut teori ini ibu tunggal atau hidup tanpa pasangan bisa dikatakan queer walaupun mereka heteroseksual, karena mereka tidak mengikuti praktik heteronormative dalam kaitannya dengan pernikahan. Hal ini menjadikan queer memenuhi labelnya dengan menolak meletakkan identitas. Sullivan mengatakan “ini merupakan kajian yang menolak untuk dijadikan kajian, kajian dengan perbedaan”.

Teori queer mencoba “mengganggu” kategori identitas dan seksualitas agar menjadi konstruksi sosial yang diciptakan dalam wacana daripada kategori yang biologis dan esensial. Teori queer berakar dari materi bahwa identitas itu tidak bersifat tetap dan stabil. Identitas bersifat historis dan dikonstruksi secara sosial. Teori queer juga dikembangkan oleh Judith Butler melalu pemikirannya mengenai gender dan perfomativity. Bagi Butler dan para pemikir teori queer, konstruksi gender dan seksualitas mengalami fluktuasi, mengembangkan produksi atau penampilan daripada kategori yang mendasar, stabil dan tidak berubah. (Ag)

Referensi:
1. Drever, James. (1952). A Dictionary of Psychology. Baltimore: Penguin Books Ltd
2. http://blogs.bcu.ac.uk/virtualtheorist/gender-queer-theory/
3. Judith Butler, Gender Trouble, Routledge, 1990
4. Judith Butler, Bodies That Matter: On the Discursive Limits of “Sex” (1993)