Mengenal apa itu Pedofilia dan Kejahatan Seksual Terhadap Anak

Pedofilia

 

ArdhanaryInstitute– Ingatkah Sahabat AI akan kasus kejahatan seksual terhadap anak di salah satu sekolah internasional di Jakarta? Kasus ini mulai mengemuka sekitar bulan Maret 2014, diikuti oleh maraknya pemberitaan kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh AS alias Emon pada akhir bulan April di tahun yang sama, serta sederet kasus lain yang serupa. Melihat usia korban yang masih di bawah umur, kata “pedofil” kembali ramai mewarnai berbagai obrolan dan pemberitaan. Melihat jenis kelamin pelaku dan korban yang umumnya sama, kata “homo” sebagai abreviasi dari istilah “homoseksual” pun ikut tenar digunakan kembali, mulai dari orang awam hingga yang mengaku ahli. Kasus-kasus semacam ini kemudian sering dijadikan bahan argumentasi untuk mengukuhkan pandangan sebagian orang bahwa homoseksual adalah pedofil dan pedofil adalah pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Munculnya sebuah akun media sosial yang mempublikasikan materi pornografi anak laki-laki di bawah umur sambil menggunakan kata “gay” pada namanya kian menguatkan pandangan sebagian orang ini—sekalipun masih belum jelas siapa sebenarnya pemilik akun itu dan dari mana asal materi publikasinya. Sebelum kita terburu-buru mengamini atau mengajukan protes keras terhadap pandangan ini, ada baiknya kita bertanya kembali:

Sebenarnya homoseksual, pedofilia, dan kejahatan seksual terhadap anak itu apa, sih?

Nah, lho… Jangan-jangan selama ini kita langsung mengatakan “sama” atau “beda” tanpa benar-benar tahu ketiganya itu apa. Supaya benar-benar paham, yuk, kita bahas satu per satu.

Pedofilia

Baik PPDGJ III (Depkes RI, 1993) maupun artikel-artikel ilmiah (e.g.: Hall & Hall, 2007; Retno & Sarwono, 2008) mendeskripsikan pedofilia sebagai sebuah istilah klinis yang digunakan oleh psikiater dan psikolog untuk menyebut ketertarikan seksual terhadap anak-anak yang belum mengalami pubertas atau masih berada di awal masa pubertas. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition atau DSM V (APA, 2013) menggunakan istilah yang sedikit berbeda, yaitu pedophilic disorder atau gangguan pedofilik, namun dengan deskripsi yang serupa. Dengan kata lain, sampai saat ini, pedofilia masih merupakan sebuah gangguan kejiwaan. Orang yang didiagnosis memiliki gangguan ini disebut pedofil. Adapun kriteria diagnosis untuk gangguan ini, adalah:

  1. Memiliki fantasi seksual atau dorongan seksual yang intens dan berulang atau terlibat dalam perilaku seksual dengan anak atau anak-anak pra-pubertas (umumnya usia 13 tahun ke bawah) selama setidaknya 6 bulan;
  2. Individu yang bersangkutan telah bertindak berdasarkan dorongan seksual tersebut, atau dorongan/fantasi seksual tersebut menimbulkan tekanan atau kesulitan interpersonal;
  3. Individu yang bersangkutan setidaknya telah berusia 16 tahun dan 5 tahun lebih tua daripada anak atau anak-anak pada kriteria A.

Pedofilia bisa dibedakan menjadi pedofilia eksklusif (hanya tertarik kepada anak-anak) dan pedofilia noneksklusif. Pada pedofilia noneksklusif, ketertarikan yang dirasakan terhadap anak bisa lebih besar atau sama dengan ketertarikan terhadap orang dewasa. Pedofil sendiri ada yang hanya tertarik kepada anak-anak dengan jenis kelamin berbeda darinya, ada yang tertarik kepada anak-anak yang sama jenis kelaminnya, dan ada yang tertarik kepada keduanya. Adapun yang boleh menegakkan diagnosis pedofilia ini hanyalah psikiater atau psikolog yang telah melakukan pemeriksaan psikologis terhadap individu yang bersangkutan.

Kejahatan Seksual terhadap Anak

Kejahatan seksual terhadap anak atau child sexual abuse didefinisikan sebagai, “kontak seksual yang aktual antara seorang dewasa dan seseorang yang belum mencapai usia di mana dia secara legal bisa memberikan konsensus,” (Herek, n.d.). Dengan kata lain, kejahatan seksual terjadi ketika seorang dewasa melakukan kontak seksual dengan seseorang yang masih di bawah umur (anak). Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, batas usia tersebut adalah 18 tahun. Di antara pelaku kejahatan seksual terhadap anak, ada yang memang hanya tertarik kepada anak, ada pula yang sebenarnya memiliki hasrat seksual terhadap orang dewasa. Pada pelaku seperti ini, kejahatan seksual terhadap anak itu sendiri dilakukan bukan karena hasrat seksual, melainkan karena pelaku menikmati rasa memiliki kekuatan, kontrol, dan dominasi atas diri anak (Kort, 2012).

Berdasarkan penjabaran tersebut, terlihat bahwa homoseksual, pedofilia, dan kejahatan seksual terhadap anak tidaklah sama. Homoseksual merupakan varian orientasi seksual yang normal.  Pedofilia merupakan gangguan psikologis. Sedangkan kejahatan seksual terhadap anak merupakan tindakan kriminal.

Homoseksual

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Merriam-Webster, teks ilmiah, artikel yang ditulis oleh entah siapa… Sumber mana pun yang kita baca dan percaya, umumnya homoseksual akan didefinisikan sebagai, “ketertarikan terhadap seseorang dari jenis kelamin yang sama,” (merujuk pada orientasi seksualnya) atau sebagai, “seseorang yang tertarik kepada orang lain yang berjenis kelamin sama dengannya,” (merujuk pada orangnya). Berbeda dengan pandangan sebagian orang, homoseksualitas bukanlah sejenis penyakit ataupun gangguan kejiwaan. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III alias PPDGJ III (Depkes RI, 1993) hanya mencantumkan homoseksualitas sebagai variasi orientasi seksual bersama-sama dengan heteroseksualitas, biseksualitas, dan lainnya. Dengan kata lain, seorang homoseksual sama saja dengan seorang heteroseksual (atau biseksual atau lainnya) kecuali dalam hal ketertarikan seksual dan emosionalnya. Seorang homoseksual bisa berjenis kelamin laki-laki, perempuan, atau lainnya, serta berasal dari keluarga dengan berbagai latar belakang ekonomi, sosial budaya, etnis, bangsa, agama, dan sebagainya. Seperti pula yang lain, ketertarikan seorang homoseksual kepada seseorang umumnya berkembang seiring pertambahan usia—yang remaja umumnya tertarik kepada sesama remaja, dan yang dewasa umumnya tertarik kepada sesama dewasa.

Apakah Pedofil dan Kejahatan Seksual Terhadap Anak adalah Homoseksual?

Homoseksual tidak bisa lantas disebut pedofil sebab homoseksual pun umumnya tertarik kepada seseorang dengan usia yang sepantaran dengan dirinya. Pedofil yang tertarik kepada anak dengan jenis kelamin yang sama juga tidak bisa lantas disebut homoseksual karena pedofil terangsang dengan kemudaan (extreme youth), bukan dengan jenis kelamin anak (Kort, 2012). Pedofil juga tidak otomatis menjadi pelaku kejahatan seksual karena istilah ini hanya merujuk pada ketertarikan, preferensi, atau dorongan seksual. Tidak semua pedofil menuruti dorongan untuk melakukan tindakan seksual terhadap anak (Herek, n.d.; APA, 2013). Para pelaku kejahatan seksual terhadap anak yang berjenis kelamin sama juga tidak bisa langsung disebut homoseksual atau pedofil. Kebanyakan dari mereka justru mengidentifikasi dirinya sebagai heteroseksual (Kort, 2012). Mereka bisa saja memiliki kekasih atau bahkan isteri yang merupakan perempuan usia dewasa tetapi melakukan kejahatan seksual terhadap anak laki-laki (Retno & Sarwono, 2008).

Oleh sebab itu, ada baiknya kita lebih kritis dan berhati-hati dalam menanggapi kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak. Ketika membaca berita tentang kasus Emon, misalnya. Apakah dia adalah pedofil dan homoseksual? Emon mungkin saja pedofil sebab ia telah berulang kali melakukan kontak seksual dengan anak pra-pubertas selama lebih dari 6 bulan. Namun, ia tidak bisa disebut homoseksual karena ia menolak disebut demikian, mengaku tertarik juga kepada perempuan, dan mengatakan ingin menikah dengan perempuan (Ramadhan, 2014). Bagaimana dengan kasus di sekolah internasional di Jakarta itu? Kita juga tidak bisa langsung mengatakan para pelaku adalah pedofil ataupun homoseksual. Dalam pemberitaan, tidak tampak adanya perilaku seksual berulang yang melibatkan anak (kejahatan baru dilakukan satu kali), video-video pornografi yang ditemukan di rumah salah satu pelaku tidak ada yang melibatkan anak, dan setidaknya salah satu pelaku dikenal sebagai heteroseksual yang telah menikah dan memiliki anak (DetikNews, 2014).

Nah, sekarang sudah tahu, kan, apa itu homoseksual, pedofilia, dan kejahatan seksual terhadap anak? Jadi, nanti kalau ada yang langsung mengaitkan ketiganya, sudah tahu, dong, bagaimana cara meresponnya? Kalau sudah, selamat berbagi informasi, ya, Sahabat AI …^_^)

*ditulis oleh DT

 Referensi:

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th Edition). American Psychiatric Publishing, Washington, DC.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1993). Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (Cetakan Pertama). Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Jakarta.

DetikNews. (2014, 23 April). Polisi Temukan Flash Disk Berisi Video Porno di Rumah Pelaku Sodomi JIS. Diunduh 31 Januari 2016, dari Detik: http://news.detik.com/berita/2563300/polisi-temukan-flash-disk-berisi-video-porno-di-rumah-pelaku-sodomi-jis

Hall, R.C.W., & Hall, R.C.W. (2007). A profile of pedophilia: Definitions, characteristics of offenders, recidivism, treatment outcomes, and forensic issues. Mayo Clinic Proceedings, 82(4), 457-471.Diunduh 31 Januari 2016, dari Paedofiles: http://www.paedofiles.com/main/wp-content/uploads/downloads/2012/12/pedophiles.pdf

Herek, G. (n.d.). Facts about Homosexuality and Child Molestation. Diunduh 31 Januari 2016, dari UCDavis: http://psc.dss.ucdavis.edu/rainbow/HTML/facts_molestation.html

Kort, J. (2012, 5 Desember). Homosexuality and Pedophilia: The False Link. Diunduh 31 Januari 2016, dari HuffingtonPost: http://www.huffingtonpost.com/joe-kort-phd/homosexuality-and-pedophi_b_1932622.html

Ramadhan, J.A. (2014, 4 Mei). 6 Pengakuan Emon di Balik Aksi Sodomi Puluhan Bocah. Diunduh 31 Januari 2016, dari Merdeka: http://www.merdeka.com/peristiwa/6-pengakuan-emon-di-balik-aksi-sodomi-puluhan-bocah/pernah-jadi-korban-sodomi.html

Retno, E.D., & Sarwono, S.W. (2008). Profil kepribadian pria pedofilia melalui tes Rorschach. Jurnal Psikologi Sosial, 14(2), 99-112. Diunduh 31 Januari 2016, dari Scribd: http://www.scribd.com/doc/90478114/Psi-Sosial-Pedofilia#scribd