Eksistensi Calalai dalam Budaya Sulawesi Selatan

 

cover buku

Ditulis oleh Lily Sugianto, Aflina Mustafainah dan Catharina Indirastuti
Epilog: Prof. Dr. Nurhayati Rahman dan Dede Oetomo PhD
Diterbitkan oleh Ardhanary Institute atas dukungan HIVOS SEA, 2015

ArdhanaryIntitute– Berpikir mengenai identitas diri sendiri adalah aktivitas yang berpusat pada ‘self concept’ [[1]], dimana ‘cogito’ dirayakan sebagai otoritas kesadaran. Namun konsep diri yang disadari ini menjadi tidak sederhana ketika berhadapan dengan identitas sosial. Disini, konsep ‘self’ tidak lagi berpusat pada cogitonya sendiri, melainkan ditentukan oleh cogito sosial. Cogito yang diklaim Descartes sebagai konsep agung berpikir secara sadar justru berubah menjadi konsep ketidaksadaran. Identitas sosial kemudian mengkategorikan ‘self’ sebagai maskulin atau feminin berdasar pada jenis kelaminnya. Ketidaksadaran membuat proses gender stereotyping ini terjadi secara otomatis, tanpa harus ada pemikiran yang mendalam, semua seolah sudah ditentukan “dari sononya”. Gender stereotyping sebagai fenomena ketidaksadaran sosial mempengaruhi ‘self’ dalam mengekspresikan identitas gendernya.

Menurut Koentjaraningrat (1987:85), nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap amat mulia. Sistem nilai yang ada dalam suatu masyarakat ini menjadi dasar filsafat atau rujukan nilai-nilai dalam bertindak dan berperilaku.[[2]] Sistem nilai ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya melalui tradisi tutur. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, pengetahuan mengenai gender adalah pengetahuan yang sifatnya menyejarah. Ia dibentuk melalui tradisi tutur hingga tradisi lisan. Pada tahap ini disadari bahwa, bahasa ternyata tidak mampu mengungkapkan pengalaman metanarasi yang bersifat melampaui. Ciri khas bahasa sebagai media pengungkapan pikiran yang tertata sadar cenderung mengurung suatu realitas ke dalam satu sistem yang absolut, hingga pemaknaan atas suatu realitas dilakukan dengan cara “membedakan” sekaligus “menunda” dan “menyembunyikan” makna asalinya. Mengutip Max Weber, Clifford Geertz (1973) mengatakan “Manusia ibarat makhluk yang terjerat dalam jaring-jaring makna yang dipintalnya sendiri.”   Bahasa hegemoni akhirnya terjebak dalam dikotomi biner antara benar-salah, roh-materi, fakta-mitos, imajiner dan real. Kebudayaan menjadi medan pertarungan makna, dimana wacana gender sebagai pembentuk identitas diri manusia berada di dalamnya.

Tulisan ini dihadirkan untuk menelusuri jejak calalai dalam pertarungan makna tersebut. Penelusuran ini berawal dari sistem nilai budaya Bugis kuno yang termaktub dalam naskah klasik La Galigo. Sistem nilai ini diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya melalui tradisi tutur (oral tradition). Hingga pada abad ke-19 (masa pendudukan Belanda), tradisi tutur La Galigo disatukan dan disalin ke dalam lembar daun lontar oleh seorang perempuan bernama Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa Matinroe ri Tucae, ratu dari kerajaan Pancana. Karyanya kemudian diambil oleh pemerintah kolonial Belanda, saat ini karyanya tersebut berada di museum Leiden, Belanda.

Menurut La Paroki dalam Perempuan Bugis, secara kultural, Sulawesi Selatan menempatkan potensi perempuan yang lebih utama ketimbang laki-laki, berbeda dengan mayoritas budaya yang ada di dunia yang menempatkan laki-laki sebagai simbol keunggulan. Lihat misalnya dengan penamaan “I La Galigo”. Secara semiotik huruf ‘I’ di Sulawesi Selatan dinisbatkan pada perempuan sedangkan ‘La’ untuk laki-laki. Pemberian nama “I La Galigo’ memuat makna simbolik dimana ikon manusia sempurna dan penyelamat masyarakat didahului dengan simbol ‘Perempuan’ kemudian simbol ‘Laki-laki’. Secara harfiah, makna ini berarti manusia sempurna adalah yang memiliki unsur keperempuanan dan kelaki-lakian secara seimbang. Landasan filosofis dalam kesempurnaan adalah keseimbangan dan keadilan.[[3]]

Mengingat pengetahuan penulis sendiri mengenai huruf ‘I’ dan ‘La’ dalam tradisi aslinya masih sangat terbatas, maka pada tanggal 19 Oktober 2015 lalu, penulis melakukan kunjungan ke Makassar untuk menggali keterangan mengenai hal tersebut dari Prof. Dr. Nurhayati Rahman dan ibu Basiah, S.S., M.A.[[4]]

Dalam kesempatan itu Nurhayati menjelaskan bahwa sebagai suatu karya, La Galigo memuat konvensi bahasa Bugis Kuno. Konvensi ini tampak dalam sastra, metrum (guru lagu, guru wilangan), dan alur. Misalnya satu bait puisi pasti terdiri dari lima baris, maka nama tokohnya pun pasti terdiri dari lima suku kata, misalnya I We Cudaiq. Jadi kata La Galigo memang harus selalu ditambah huruf ‘I’ di depannya. Nurhayati menambahkan bahwa penempatan huruf ‘I’ pada judul buku, sebenarnya dimaksudkan untuk membedakan apakah pembahasan buku tersebut mengenai teks atau mengenai tokoh. Kata La Galigo merujuk pada teks, sementara kata I La Galigo merujuk pada tokoh.[[5]]  Dalam konteks tokoh inilah, huruf ‘I’ bersifat netral dan tidak berjenis kelamin. Dengan demikian, huruf ‘I’ bisa ditempatkan pada jenis kelamin manapun.  Penempatan huruf ‘I’ bisa juga ditinjau saat kata I La Galigo akan dinyanyikan, karena pengucapan La Galigo yang hanya terdiri dari empat suku kata, dianggap kurang lengkap dan akan mengakibatkan irama menjadi fals. Oleh karenanya harus selalu ditambahkan huruf ‘I’ agar lebih lengkap.

Menurut Basiah, ada dua pendapat jika menyoal huruf ‘I’. Pendapat pertama mengatakan kata La Galigo merujuk pada karya atau judul karya La Galigo, sementara kata I La Galigo merujuk pada tokoh. Pendapat kedua yang bersandar pada pola-pola suku kata, mengatakan bahwa huruf ‘I” pada I La Galigo adalah untuk mencukupkan lima suku kata. Pengucapan La Galigo yang hanya terdiri dari empat suku kata dianggap kurang lengkap, sehingga harus ditambahkan huruf ‘I’ di depannya agar menjadi lebih lengkap. Adapun huruf yang digunakan sebagai penanda gender masyarakat Bugis Makassar adalah ‘We’ dan ‘La’, dimana ‘We’ mengacu pada gender perempuan, sementara ‘La’ mengacu pada gender laki-laki. Namun pada perkembangannya sekarang menurut Basiah, huruf ‘La’ masih tetap dipertahankan sebagai penanda gender laki-laki. Sementara huruf ‘I’ bisa dinisbatkan pada perempuan, misalnya pada penamaan I Sitti.

Dalam bukunya yang berjudul Ritumpanna Wélenrénngé: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik Galigo, Fachruddin Ambo Enre menjelaskan latar belakang sejarah yang menyangkut lima suku kata I La Galigo, sebagai berikut:[[6]]

 Adapun orang yang pertama menulis tentang Galigo dan memperkenalkannya kepada dunia luar, ialah Th.S. Raffles melalui bukunya The History of Java, terbitan tahun 1817. Ia mencatat sedikit tentang isinya serta cara membacanya, yang dikatakannya terdiri atas satuan lima suku kata yang diakhiri dengan jeda. Iramanya disebutnya rangkaian ‘daktilus’ dan ‘trokhaeus’. Menurut dia puisi wiracarita ini adalah satu-satunya jenis pustaka di kalangan orang Bugis yang dikenal pengarangnya, yaitu I La Galigo, putra Sawerigading.

 Setengah abad kemudian barulah perkenalan tersebut disusul dengan minat mengetahuinya secara sungguh-sungguh. B.F. Matthes yang pernah tinggal di Makassar antara tahun 1848-1879 dengan diselingi dua kali cuti panjang ke negeri Belanda – menggunakan banyak waktu dan tenaganya untuk mendapatkan naskah dan keterangan mengenai ceritera Galigo. Koleksinya yang terdiri dari 26 buku yang diserahkan kepada Nederlandsche Bijbelgenootschap (NBG), mencakup materi utama ceritera dari awal hingga ke akhirnya. Dia juga menamai ceritera ini puisi wiracarita. Episode awalnya pernah diterbitkannya dengan menggunakan aksara lontaraq disertai keterangan arti beberapa kata. Agak berbeda dengan keterangan Raffles, ia hanya menyatakan bahwa ceritera itu dikenal di pedalaman Sulawesi Selatan dengan nama I La Galigo, yang juga merupakan nama salah seorang tokohnya yang memegang peranan penting. Mengenai iramanya, dikatakannya sangat sederhana, berupa satu baris sajak yang terdiri dari lima suku kata kalau tekanan jatuh pada suku kedua dari belakang, atau empat suku kata kalau tekanan jatuh pada suku kata terakhir. Bahasanya disebutnya bahasa Bugis kuno yang tidak terpakai lagi.

Bersandar pada pernyataan-pernyataan di atas, terutama makna bahwa huruf ‘I’ bukanlah sekedar penanda gender melainkan juga simbol melampaui karena bersifat netral dan tidak berjenis kelamin, maka dalam rangka menghormati proses melampaui dan makna keragaman yang terejawantah dalam isi naskah tersebut, untuk seterusnya penulis akan menggunakan kata I La Galigo.

Naskah I La Galigo terbagi atas episode-episode yang bercerita tentang penciptaan dunia, manusia pertama yang diturunkan ke atas permukaan bumi untuk meletakkan dasar-dasar peradaban manusia Bugis, dan sejarah berdirinya kerajaan-kerajaan Bugis kuno. Pada episode mengenai penciptaan, dikisahkan Raja Luwu yaitu Batara Guru, anak sulung Dewa Agung di kayangan turun ke bumi (Tomanurung) dengan cara meretas dari sebatang bambu. Namun karena kurang mampu mengelola sistem kependudukan dan pemerintahan maka dewa langit mengutus seorang dewi dari lautan, We Nyili’ Timo’ untuk membantu Batara Guru. Bersamaan dengan itu turun pula seorang Bissu pertama bernama Lae-lae sebagai penyempurna kehadiran leluhur Bugis. Hubungan antara Batara Guru dan We Nyili’ Timo’ dengan dewa-dewa lainnya dapat dilakukan melalui peran Bissu.[[7]] Sementara pada episode berikutnya memuat kisah perjalanan Sawerigading melamar We Cudai ke negeri Cina. Tokoh sentral dalam I La Galigo adalah We Tenri Abeng, saudara kembar Sawerigading. Sawerigading sangat menghormati adik perempuannya yang digambarkannya sebagai Dewi Kebijaksanaan. We Tenri Abeng adalah permaisuri Botinglangi (puncak tertinggi Kerajaan Khayangan), isteri dari “Remmang ri Langi”. Sebagai kepala pendeta bagi para Dewata yang menghuni khayangan, We Tenri Abeng mendapat gelar “Bissu ri Langi”.

Melalui naskah inilah masyarakat dunia mulai mengenal tradisi Bissu, terutama setelah Sharyn Graham seorang anthropolog Australia mempublikasikan hasil penelitiannya dalam Sex, Gender and Priests in South Sulawesi, Indonesia. Dalam penelitiannya Graham memaparkan bahwa, sejak dulu masyarakat Sulawesi Selatan telah mengakui empat jenis gender dan satu para-gender[8] yaitu; uruane (laki-laki), makunrai (perempuan), calalai (perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki), calabai (laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan) dan para-gender Bissu.[[9]]  Bissu adalah pemimpin besar agama Bugis pra-Islam yang memiliki peran sebagai penghubung inter-dimensional antara manusia dan Tuhan. Karena itu tidak sembarang orang bisa menjadi Bissu, ada prasyarat tertentu yang harus dimiliki oleh seorang calon Bissu yaitu sejak kecil berkelamin ambigu, memiliki dua elemen gender perempuan dan laki-laki (two spirits), serta mampu berkomunikasi dua alam. Setelah dewasa, ia diwajibkan mengikuti serangkaian ujian lainnya sebelum dilantik menjadi seorang Bissu.

Publikasi ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, terutama kelompok konservatif religius. Dalam kacamata mereka, fenomena Bissu tidak lebih dari sekedar mitos kuno yang tidak lagi sesuai dengan konteks agama kekinian. Pertama, karena peran Bissu sebagai imam agama Bugis Kuno sangat bertentangan dengan konsep agama-agama (modern), dimana orang yang pantas ditasbihkan sebagai imam adalah laki-laki maskulin dan heteroseksual. Kedua, sisi feminitas yang melekat pada diri seorang Bissu yang secara biologis laki-laki terlanjur diberi label sebagai ‘perbuatan’ menentang kodrat oleh narasi agama-agama (modern). Ketiga, sisi feminitas ini pun terlanjur diberi label ‘memiliki kelainan’ oleh pengetahuan Barat. Jadi bagaimana mungkin seseorang yang ditandai memiliki kelainan dan menyalahi kodrat justru menjadi seorang imam besar? Sejarah kekerasan berbasis konservatisme agama terhadap kaum Bissu dapat ditinjau melalui peristiwa DII/TI dan peristiwa tahun 1965, dimana dampak yang ditimbulkan masih dirasakan oleh mereka hingga saat ini. Di titik inilah penulis melihat adanya keterputusan sejarah; konsep metagender sebagai petanda kearifan lokal yang awalnya bersifat sakral berubah menjadi profan. Peristiwa itu sekaligus menggambarkan bagaimana seni melampaui (transendensi) dalam tradisi Bissu, secara koersif tercerabut dari sakralitasnya.

Sambutan yang berbeda justru ditunjukkan oleh kelompok LGBT, kelompok ini merayakan temuan Graham sebagai bukti real bahwa sesungguhnya gender manusia merupakan gagasan yang begitu kompleks, yang tidak terikat pada fakta tubuh materil, dan tidak bisa dinaturalisasikan hanya pada dua kategori gender semata. Namun akhir-akhir ini tampak kecenderungan masyarakat untuk selalu mengkaitkan identitas gender dan ekspresi dengan orientasi seksual. Padahal bicara tentang gender ekspresi, orientasi seksual dan identitas gender adalah tiga hal yang berbeda. Kurangnya informasi mengenai pluralitas gender membuat sosok Bissu seolah identik dengan waria.

Terlepas dari segala kontroversi di atas yang harus digaris bawahi adalah, hingga saat ini masyarakat Sulawesi Selatan menyakini I La Galigo merupakan sastra lokal yang mewariskan nilai-nilai kearifan mengenai cara hidup dan mengada masyarakat Bugis. Dengan kata lain, I La Galigo adalah petanda (signified) pengetahuan ideologis mengenai cara hidup dan mengada masyarakat Bugis yang bersumber pada konsep metagender. Konsep ini direpresentasikan melalui sosok Bissu sebagai penanda (signifier) bahwa gender manusia bukan merupakan suatu fenomena yang bersifat statis, oleh karenanya gender tidak bisa dimaterialisasikan ke dalam tubuh biologis. Karena proses materialisasi gender ke dalam tubuh biologis tidak hanya akan melahirkan norma-norma gender (gender norms) semata, melainkan juga segregasi gender (gender segregation); dimana ada pihak yang superior dan inferior (gender role). Penanda inilah yang kemudian dikenal sebagai sistem metagender Sulawesi Selatan yang meliputi laki-laki, perempuan, Bissu, calabai dan calalai. Sistem metagender merupakan kekayaan asali budaya Bugis, dan berangkat dari kekayaan itulah manusia Bugis menemukan gugus identitasnya. Dan buku ini, secara khusus mempersembahkan tulisan mengenai Calalai. (Dikutip dari Pengantar buku “Eksistensi Calalai dalam Budaya Sulawesi Selatan)

 

Catatan Kaki

[1] Self concept (konsep diri) adalah pengetahuan dan gagasan seseorang terkait keberadaan dirinya sendiri. Konsep diri ini meliputi aspek fisiologis, psikologis, psikososiologis, dan psiko-etika. Gambaran mengenai konsep diri diperoleh melalui interaksi antara Diri dengan lingkungan sosialnya. Menurut Coulhoun (Ulfah Maria, 2007), konsep diri dapat bersifat positif maupun negatif. Positif dan negatifnya konsep diri ini ditentukan oleh penilaian individu sendiri berdasar pada bagaimana lingkungan sosial mempersepsikan dirinya. Seseorang yang merasa dirinya diterima, cenderung memiliki konsep diri yang positif, sebaliknya orang yang merasa dirinya ditolak, cenderung memiliki konsep diri yang negatif.

[2] Ni Wayan Sartini, Menggali Nilai kearifan Lokal Budaya Jawa Lewat Ungkapan (Bebasan, Saloka, dan Paribasa) – diakses dari: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17541/1/log-apr2009-5%20%284%29.pdf, pada tanggal 23 Februari 2015 pukul 11.32

[3] La Paroki, Perempuan Bugis (posted by Penerbitan Kampus ‘Identitas’ UNHAS on 4/27/2012) – ed, diakses dari: http://www.identitasonline.net/2012/04/perempuan-bugis.html, pada tanggal 2 Januari 2015 pukul 01.30

[4] Pertemuan dengan Prof. Dr. Nurhayati Rahman awalnya dijadwalkan jam 10.00 pagi, hari Senin 19 Oktober 2015 di ruang Laboratorium Naskah Universitas Hasanuddin. Namun karena kelalaian kami (penulis dan data kolektor) membuat pertemuan terlambat lebih dari satu jam. Proses wawancara akhirnya disepakati di kediaman beliau. Sementara proses wawancara dengan ibu Basiah, S.S., M.A tetap dilaksanakan di ruang Laboratorium Naskah Universitas Hasanuddin.

[5] Menurut Nurhayati, pada buku jilid pertama (R.A Kern, I La Galigo. 1989) menggunakan huruf ‘I’ pada judulnya karena buku tersebut bercerita tentang tokoh. Namun huruf ‘I’ tidak dicantumkan pada buku jilid kedua (La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, Pengantar: Dr. Anhar Gongong, 2003) karena buku ini bercerita tentang teks bukan tentang tokoh.

[6] Lihat: Fachruddin Ambo Enre, Ritumpanna Wélenrénngé: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik Galigo, Yayasan Obor Indonesia bekerjasama dengan Ecole Francaise d’Extreme-Orient dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia atas bantuan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, Juli 1999.  Bab I Pendahuluan, hal.13-14, diakses dari: https://books.google.co.id/books?id=u3jZXmdmv0oC&printsec=frontcover#v=onepage&q&f=false, pada tanggal 22 Oktober 2015 pukul 03.10

[7] Bisri Effendy, Bissu: Menggugat Maskulinitas dan Feminitas (2003), diakses dari: http://srinthil.org/440/bissu-menggugat-maskulinitas-dan-feminitas/, pada tanggal 19 Maret 2015 pukul 13.37

[8] Paragender: A non-cis and non-trans person that does not feel the need to transition because they already feel like the gender they are (from Greek prefix ‘para’, meaning beside, near; a gender that is very near but not quite another gender. Sumber: http://crowleylovesyou.tumblr.com/post/96875992390/paragender, http://queerquerys.tumblr.com/terms)

[9] Sharyn Graham, Sex, Gender and Priests in South Sulawesi, Indonesia, IIASNewsletter|#29| November 2002 27 – diakses dari http://www.iias.nl/sites/default/files/IIAS_NL29_FULL.pdf, pada tanggal 16 Februari 2015 pukul 14.21