CALALAI, Bukti Keragaman Gender Dalam Kebudayaan Indonesia

POSTER CALALAI
ArdhanaryInstitute
– “Saya sangat berterima kasih karena kebudayaan daerah saya, Sulawesi Selatan, diangkat dalam film ini.” Kata-kata tersebut diucapkan oleh Prof. Dr. Nurhayati Rahman, seorang budayawan sekaligus Guru Besar Filologi dari Universitas Hasanuddin, Makassar, ketika memberikan sambutan dalam kegiatan launching film dokumenter Calalai: In Betweenness, produksi Ardhanary Institute, Rumah Pohon Indonesia dan Hivos SEA yang disutradarai oleh Kiki Febriyanti. Selain launching Film, dilakukan juga launching buku berjudul “Eksistensi Calalai dalam Budaya Sulawesi Selatan” yang ditulis oleh Lily Sugianto. Kegiatan ini berlangsung sejak pukul 19.00 hingga 21.30 WIB dan dihadiri oleh lebih dari 100 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari budayawan, akademisi, perwakilan dari berbagai organisasi perempuan dan organisasi LGBT, hingga mahasiswa.

Usai pemutaran film dengan durasi 45 menit, dilanjutkan dengan kegiatan 2 sesi diskusi. Pertama diskusi film dengan narasumber Agustine (produser, Ardhanary Institute), Ursula Tumiwa (Produser, Rumah Pohon Indonesia) dan Kiki Febriyanti (sutradara). Kedua diskusi buku dengan narasumber Lily Sugianto, Aflina Mustafainah dan Catharina Indirastuti. Moderator dari kedua diskusi ini adalah Vivi Widyawati.

“Ide awal pembuatan film ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu, setelah kami menonton film The Last Bissu,” ungkap Agustine, Direktur Ardhanary Institute, dalam sesi diskusi. “Setelah menonton film itu, dan dokumenter Calalai ini, kita bisa melihat bahwa ternyata selama ini kita dibohongi. Manusia itu bukan cuma laki-laki dan perempuan.” Film dokumenter Calalai: In Betweenness ini sendiri mengangkat fenomena calalai, perempuan yang seperti laki-laki, sebagai salah satu dari lima gender yang diakui dalam budaya Bugis tradisional. Dalam film tersebut juga dipaparkan bahwa calalai tidak sekedar tentang biologis, tetapi ada orang yang menjadi calalai secara sosial, di mana ia yang terlahir sebagai perempuan tetapi mengambil peran-peran maskulin yang biasanya diidentikkan dengan laki-laki. “Yang paling membuat saya jatuh cinta pada (fenomena) calalai adalah karena ia menunjukkan bahwa, dalam budaya Sulawesi Selatan, gender itu dinamis. Calalai menempatkan diri sesuai konteks, melampaui kotak-kotak yang ada. Ia mengambil peran yang dibutuhkan pada konteks yang ada,” ungkap Catharina Indrastuti, peneliti film dari Rumah Pohon Indonesia. Sayangnya, literatur mengenai calalai masih sangat sulit ditemui. Seiring waktu, posisi calalai sebagai bissu (pemimpin ritual dalam agama Bugis tradisional) juga semakin jarang terlihat. Oleh sebab itu, saat ini, tidak banyak orang yang mengetahui tentang keberadaan calalai.

“Karena saya juga berasal dari Sulawesi Selatan, ketika saya kecil, sekitar tahun 1930-an, calabai dan calalai ini bukan sesuatu yang asing. Saya dulu sudah sering melihatnya. Mereka memiliki peran-perannya sendiri di dalam masyarakat, dan mereka sangat dedicated serta respected,” ungkap Sjamsiah Ahmad, salah satu tokoh gerakan perempuan yang hadir. Beliau juga mengungkapkan bahwa pengalaman pindah dan tinggal selama puluhan tahun di luar Sulawesi Selatan membuat beliau tidak lagi dekat dengan kebudayaan daerahnya. “Namun, malam ini saya senang sekali karena saya merasa seperti kembali ke asal saya. Saya jadi merasa bahwa ternyata memang, meskipun konsep human rights dan keragamanbanyak disebut-sebut di luar negeri, justru tanah air saya yang paling kaya dan sudah menghargai keberagaman itu sejak lama,” ucap beliau, menutup tanggapannya terkait film Calalai: In Betweenness. (DT)