Membedah Pemikiran Simone de Beauvoir: Eksistensialisme Perempuan

16.Forfatterbilde_fil.org

 

Simone de Beauvoir merupakan salah satu tokoh penting yang berkonstribusi sangat besar kepada gerakan hak asasi perempuan melalui pemikiran-pemikirannya. Karyanya, ‘Le Deuxième Sexe’ (1949) atau ‘The Second Sex” dicatat sebagai karya klasik yang memberikan gambaran tentang bagaimana ketertindasan perempuan terjadi, yang telah menginspirasi gerakan pembebasan perempuan di seluruh dunia. Dan jika dilihat dari sejarah perkembangan feminisme, Simone de Beauvoir dianggap sebagai pelopor teori feminisme yang sudah lebih subtantif dibandingkan dengan teori-teori yang sebelumnya. Secara umum pemikiran dari Simone de Beauvoir disebut dengan teori feminisme.

Pemikiran dari Simone de Beauvoir sangatlah khas dan menarik, terutama mengenai eksistensialisme untuk perempuan, akar ketertindasan perempuan atas dominasi laki-laki. Dengan mengadopsi bahasa Ontologis dan bahasa etis eksistensialisme, Beauvoir mengemukakan bahwa laki-laki dinamai “laki-laki” sang Diri, sedangkan “perempuan” sang Liyan. Jika Liyan adalah ancaman bagi Diri, maka perempuan adalah ancaman bagi laki-laki. Karena itu, jika laki-laki ingin tetap bebas, ia harus mensubordinasi perempuan terhadap dirinya. Menurut Dorothy Kauffman Mc Call, opresi perempuan oleh laki-laki unik karena dua alasan: “Pertama, tidak seperti opresi ras dan kelas, opresi terhadap perempuan merupakan fakta historis yang saling berhubungan, suatu peristiwa dalam waktu yang berulang kali dipertanyakan dan diputar balikan. Kedua, perempuan telah menginternalisasi cara pandang asing bahwa laki-laki adalah esensial dan perempuan adalah tidak esensial.[1] Perempuan telah disosialisasikan sejak mereka kanak-kanak untuk menerima, menunggu, bahkan bergantung. Mereka juga di doktrin untuk percaya bahwa nantinya akan ada seorang laki-laki yang datang menyelamatkan hidupnya dan melindunginya untuk selamanya seperti dalam cerita dongeng maupun mitos masyarakat. Dari hal tersebut Beauvoir mengungkapkan bahwa unsur ketergantungan perempuan tidak hanya bersumber dari mitos masyarakat saja, namun terlalu banyak faktor kehidupan di dalam sejarah yang tidak memungkinkan perempuan untuk mandiri.

Beauvoir juga mengungkapkan bahwa dalam sebuah lembaga penikahan masih berlaku anggapan bahwa seorang suami adalah pelindung istrinya, namun kenyataanya dalam kehidupan rumah tangga sendiri banyak terjadi kasus kekerasan terhadap istri di dalam rumah tangga, dan ketika berada di masyarakat, gerak-gerik seorang istri masih terus diawasi hingga sangat mendetail dan masa depan istri seringkali dimanipulasi sesuai kehendak suami. Menurut Beauvoir perempuan yang menikah hanyalah sekedar pesakitan yang bisa dipukuli dalam kehidupan pernikahan. Dalam kehidupan keluarga borjuis, Beauvoir sependapat dengan pernyataan Engels yang menyatakan bahwa dalam keluarga borjuis, perempuan diperlakukan seperti private property yakni perempuan mau dikorbankan demi kepemilikan pribadi, sehingga menimbulkan pendapat bahwa semakin kaya kondisi ekonomi seorang suami, semakin tinggi tingkat ketergantungan sang istri.

rr-collectibles-2010-09-02-5

 

Dalam teorinya Beauvoir juga menelaah bagaimana perempuan menjadi tidak hanya berbeda dan terpisah dari laki-laki, tetapi juga inferior terhadap laki-laki. Ia mengatakan bahwa meskipun ahli biologi, ahli psikoanalis Freud dan para ekonom Marxis telah membantu menerangkan alasan-alasan terhadap “ke-Liyanan” perempuan, para filsuf eksistensialis memberikan penjelasan yang terbaik atas fenomena itu. Beavoir berulang-ulang mengatakan bahwa fakta biologis tentang perempuan, -misalnya, peran utamanya dalam reproduksi psikologis relatif terhadap peran sekunder laki-laki, kelemahan fisik perempuan relatif terhadap kekuatan fisik laki-laki, dan peran aktif yang dimainkannya dalam hubungan seksual adalah relatif terhadap peran aktif laki-laki, dapat saja benar, namun bagaimana kita menilai fakta ini bergantung pada kita sebagai makhluk sosial.

Beauvoir menulis: “Pembudakan betina bagi spesies dan keterbatasan dari kekuatannya yang beragam adalah fakta yang sangat penting; tubuh perempuan adalah salah satu elemen esensial dalam situasinya di dunia. Tetapi tubuh itu tidak saja cukup mendefinisi perempuan; tidak ada kenyataan hidup yang sesungguhnya kecuali yang dimanifestasikan oleh individu, yang sadar melalui kegiatan dan apa yang ada di dalam masyarakat. Biologi tidak cukup untuk menjawab pertanyaan yang menghadang kita mengapa perempuan adalah  Liyan.”Ketika Beauvoir mencari jawaban di luar biologi dan psikologi, terutama psikoanalisis, untuk mendapatkan penjelasan yang lebih baik mengenai ke-Liyanan perempuan, Beauvoir kecewa.  Menurut Beauvoir, Freudian tradisional pada dasarnya menceritakan hal yang sama tentang perempuan: Bahwa perempuan adalah makhluk yang harus mengatasi kecenderungan nafsu seksualnya dan kecenderungan “feminin”-nya, yang pertama diekspresikan melalui erotisme klitoral, yang kedua melalui erotisme vaginal. Untuk memenagkan pertarungan ini -untuk menjadi normal- perempuan harus mengatasi kecenderungan nafsu seksualnya dan memindahkan hasratnya dari perempuan ke laki-laki.

Lebih rincinya, Beauvoir malihat penjelasan Freud atas ke-Liyanan perempuan adalah tidak lengkap. Ia menyalahkan para pemikir freudian karena mengajarkan bahwa status sosial perempuan yang rendah dibandingkan laki-laki adalah semata-mata karena perempuan tidak memiliki penis. Beauvoir menolak pandapat yang mengatakan adalah anatomi perempuan yang menempatkan perempuan sebagai manusia dan warga kelas dua. Perempuan“mencemburui” mereka yang memiliki penis, kata Beauvoir, bukan karena mereka ingin memiliki penis itu sebagai penis, tetapi karena menginginkan keuntungan material dan psikologis yang dihadiahkan kepada pemilik penis. Status sosial laki-laki tidak dapat ditelusuri dari karakteristik tertentu dari anatomi laki-laki; tetapi, “prestise penis” harus dijelaskan, “melalui kekuasaan sang ayah.” Perempuan adalah Liyan bukan karena mereka tidak memiliki penis, melainkan karena mereka tidak memiliki kekuasaan.

Beauvoir pun menganggap penjelasan mengenai Marxis mengenai alasan mengapa perempuan adalah Liyan hampir sama tidak memuaskannya seperti penjelasan Freud. Engels beragumentasi bahwa sejak awal perempuan melakukan pekerjaan yang tampak sebagai jenis pekerjaan ada dalam dirinya sendiri, seperti memasak, membersihkan, dan mengasuh anak, sementara laki-laki melakukan pekerjaan yang tampak sebagai bagian dari kategori ada untuk dirinya sendiri, seperti berburu dan berkelahi, yang sebagian besar dari pekerjaan itu membutuhkan alat untuk menaklukan dunia. Sebagai akibat dari pembagian kerja yang spesifik seperti itu, laki-laki menguasai alat produksi; lak-laki menjadi “borjuis”, perempuan menjadi “proletar”.[2]

Beauvoir berpendapat bahwa dengan melarang perempuan bekerja di luar rumah maka hal ini juga berarti menghalangi pencarian jati diri dan kebahagiaan perempuan. Perempuan sebaiknya dibiarkan menghadapi dunia dengan kekuatannya sendiri hingga lama-kelamaan sifat ketidak-mandiriannya hilang secara berangsur-angsur. Beauvoir juga berpendapat bahwa upaya menyetarakan perempuan dengan laki-laki tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada dukungan dari masyarakat sekitar. Selain itu terdapat ungkapan dari Beauvoir yang sangat terkenal, cukup kontroversial, dan mengundang banyak reaksi yakni ‘On ne saît pas femme, on ledevient ’ (perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan menjadi perempuan). Ungkapannya tersebut dianggap sebagai deklarasi kemerdekaan perempuan akan dominasi laki-laki dalam masyrakat terutama dalam bidang politik dan pemerintahan. (Ag)

Referensi:

  1. Simone de Beauvoir, “The Second Sex”, and Jean-Paul Sartre, Dorothy Kaufmann McCall, Signs, Vol. 5, No. 2 (Winter, 1979), pp. 209-223
  2. The Origin of the Family, Private Property and the State, Friedrich Engels, 1984
  3. Simone de Beauvoir & Teorinya, Dian Wahyu Nurvita, 2010

[1] Dian Wahyu Nurvita, Simone de Beauvoir & Teorinya, 2010

[2] Dian Wahyu Nurvita, Simone de Beauvoir & Teorinya, 2010