Calalai In-Betweenness Menuai Tanggapan Positif di Seoul International Women’s Film Festival Korea Selatan

Comment

ArdhanaryInstituteSeoul International Women’s Film Festival (SIWFF) merupakan salah satu festival film perempuan yang bergengsi di Korea Selatan. Pertama kali diinisiasi pada tahun 1997, festival film ini bertujuan untuk mendorong kiprah sineas perempuan, khususnya di Asia, dalam industry perfilman serta mempromosikan nilai-nilai kesetaraan, perdamaian, penghormatan akan keberangaman dan inklusivitas. Dalam salah satu programnya, SIWFF mengadakan Asia Short Film and Video Competition dan pada tahun ini, sebanyak 419 film dari Cina, Hong Kong, India, Indonesia, Iran, Israel, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Vietnam, dan Korea ikut terlibat dalam seleksinya. Sebanyak 19 film dan video lolos seleksi dan salah satu di antaranya adalah film dokumenter dari Indonesia, yakni Calalai In-Betweenness produksi Ardhanary Institute bekerja sama dengan Rumah Pohon Indonesia.

Berlangsung dari tanggal 2 sampai 8 Juni 2016, SIWFF ke-18 diadakan di Megabox Sinchon, Seoul. Sebanyak lebih dari 100 film ditayangkan dalam festival film tersebut. Calalai In-betweeness sendiri ditanyangkan pada tanggal 5 dan 7 Juni 2016. Adapun pada tanggal 7 Juni, Calalai In-Betweeness tampil bersama 3 nominasi Asia Short Film and Video Competition lainnya, yakni I Am Going to Make Lesbian Porn dari Cina, Pan Zhog dari Taiwan, dan Leeches dari India. Setelah penayangan keempat film tersebut, terdapat sesi Guest Visit (GV), sutradara masing-masing film dihadirkan untuk menjawab pertanyaan dari para audiens. Kiki Febriyanti pun hadir sebagai sutradara film Calalai In-Betweenness. Dalam perkenalannya, Kiki menjelaskan, “Saya yakin bahwa di dunia ini gender tidak lah biner, ada gender lainnya selain laki-laki dan perempuan. Itulah yang memotivasi saya untuk menyutradarai film Calalai In-Betweeness”.

Sejumlah pertanyaan terkait keberagaman gender ditujukan kepada Kiki. Dalam salah satu tanggapannya, Kiki berujar bahwa sesungguhnya tidak sesederhana itu menyamakan Calalai dan Calabai di Sulawesi Selatan ini dengan kategorisasi gender modern yang umum kita kenal, seperti female-to-Male Transgender dan Male-to-Male Transgender. Selain pertanyaan, tanggapan positif untuk film garapan Kiki pun bermunculan, salah satunya dari sutradara film I Am Going to Make Lesbian Porn, Dajing. Setelah dalam filmnya ia menyebutkan bahwa di Cina keterbatasan Bahasa menyulitkan sejumlah orang, termasuk dirinya, untuk mendefinisikan gender dan seksualitasnya, dalam sesi GV tersebut ia berujar, “Setelah saya menonton film Calalai, saya berpikir, mungkin saya juga adalah Calalai, hahaha…” Tanggapan lainnya datang dari salah satu audiens dari Korea yang mengatakan, “Saya sangat menikmati filmnya. Cacalai merupakan film yang paling menarik!” Tidak berhenti sampai di sana, salah seorang dosen dari Ewha Womans University bahkan mendatangi Kiki secara personal untuk menanyakan apakah dirinya bisa meminta film Calalai In-Betweeness untuk ditayangkan di salah satu kelasnya. (*liputan ditulis oleh ARY)