Diskusi Mengenai Partisipasi Remaja Yang Bermakna dalam Organisasi

MYP harum

 

ArdhanaryInstitute– Pada tanggal 29 Maret 2017, Ardhanary Institute bekerja sama dengan Aliansi Satu Visi untuk Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) Remaja menyelenggarakan diskusi kelompok terfokus untuk mengetahui bagaimana pendekatan Meaningful Youth Participation (partisipasi remaja yang bermakna) dan Youth-Adult Partnership (kemitraan orang muda dan dewasa) diimplementasikan dalam berbagai organisasi, baik itu organisasi yang bekerja untuk isu HKSR remaja maupun organisasi anak muda lainnya. Kegiatan ini berlangsung sekitar pukul 10.30 WIB hingga sekitar pukul 15.45 WIB di Jakarta.

Diskusi ini diselenggarakan sebagai tahap pertama dalam rangkaian proses pengembangan panduan implementasi Meaningful Youth Participation (MYP) dan Youth-Adult Partnership (YAP) dalam organisasi yang akan dikembangkan oleh oleh Ardhanary Institute bersama Aliansi Satu Visi atas dukungan Rutgers WPF Indonesia melalui program Get Up Speak Out (GUSO) yaitu program advokasi pemenuhan HKSR Remaja.

Adapun peserta dari kegiatan ini berasal dari berbagai organisasi, di antaranya Centra Mitra Muda (CMM) – PKBI DKI Jakarta, Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Timur, Pelangi Mahardhika, Sanggar SWARA, Suara Kita, Persatuan Priawan Indonesia (PPI), serta Remaja Aliansi Satu Visi.

Diskusi dimulai dengan perkenalan dari masing-masing peserta. Setelah itu, fasilitator memandu diskusi mengenai partisipasi anak muda yang bermakna serta kemitraan anak muda dan orang dewasa (MYP-YAP).

“Ketika komunikasi antara anak muda dan orang dewasa harus setara dan tidak menggunakan persepsi orang dewasa yang seringkali merasa lebih tahu. Remaja ini bukan hanya objek, tapi juga menjadi subjek. Intinya keterlibatan, tetapi yang lebih aktif,” ucap salah satu peserta ketika ditanya mengenai partisipasi anak muda yang bermakna. Adapun mengenai kemitraan antara anak muda dan orang dewasa, beberapa peserta merasa bahwa terkadang kemitraan yang terjalin antara anak muda dan orang dewasa berjalan kurang baik karena adanya pandangan-pandangan negatif antara orang dewasa kepada anak muda dan begitu pula sebaliknya.

Peserta dalam diskusi ini juga setuju bahwa pendekatan MYP-YAP perlu diimplementasikan dalam organisasi. Hal ini diperlukan oleh organisasi untuk mencapai visinya dan membantu proses regenerasi, baik dalam organisasi yang dipimpin oleh anak muda (youth-led), organisasi umum yang memiliki program khusus untuk anak muda, maupun organisasi lainnya yang tidak memiliki  program khusus untuk anak muda, tetapi melibatkan anak muda dalam melaksanakan program-program yang dijalankannya.

Berdasarkan hasil diskusi terfokus ini, didapati bahwa masih banyak organisasi peserta yang belum optimal dalam mengimplementasikan MYP-YAP. Oleh karena itu, memang dibutuhkan sebuah panduan yang dapat digunakan oleh organisasi, baik anggota Aliansi Satu Visi maupun organisasi yang bergerak pada isu HKSR lainnya. (HCP)